Jumat, 20 Oktober 2017

FKPT Bengkulu Gandeng Media Massa Tangkal Radikalisme

id FKPT, Radikalisme
FKPT Bengkulu Gandeng Media Massa Tangkal Radikalisme
Seminar Literasi Media dalam Upaya Cegah dan Tangkal Paham Radikal dan Terorisme yang diikuti puluhan jurnalis dan humas berbagai lembaga pemerintah. (Foto Antarabengkulu)
Bengkulu (Antara) - Pengurus Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu menggandeng media massa untuk menangkal paham radikal dan terorisme di daerah itu.

"Media massa memiliki peran yang sangat strategis untuk menangkal radikalisme dan terorisme," kata Ketua FKPT Provinsi Bengkulu Iskandar Ramis di Bengkulu, Kamis.

Saat seminar Literasi Media dalam Upaya Cegah dan Tangkal Paham Radikal dan Terorisme yang diikuti puluhan jurnalis dan humas berbagai lembaga pemerintahan, Iskandar mengatakan media massa dapat mengedukasi masyarakat dalam upaya menangkal radikalisme dan terorisme.

Kenyataannya, kata Iskandar, teroris dan radikalis juga memanfaatkan media, terutama media sosial untuk menyebarluaskan paham radikal dan terorisme.

Baca Juga: Dewan Pers: Media Bisa Jadi Senjata Terorisme

Karena itu, masyarakat perlu dicerdaskan dalam memilah dan memilih informasi dan berita yang berbobot sehingga mereka terhindar dari jebakan kaum radikalis dan teroris.

"Di beberapa negara, media sosial digunakan para teroris untuk merekrut anggotanya karena itu masyarakat harus waspada," kata dia.

Kegiatan yang menghadirkan sejumlah narasumber antara lain anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi, anggota DPD asal Bengkulu Eni Khairani itu pun membuka kesempatan bagi peserta untuk berdialog.

Kontributor MetroTV Syafran Ansori dalam kesempatan itu mempertanyakan upaya pemerintah untuk menangkal radikalisme dan terorisme, terutama citra umat Islam yang identik dengan teroris.

"Sementara pembantaian di Rohingya yang dilakukan non-Muslim itu tidak pernah disebut sebagai tindakan teror," kata Syafran.

Menanggapi hal ini, anggota DPD Eni Khairani mengatakan terorisme tidak memandang latar belakang agama, sebab faktanya dapat dilakukan oleh oknum dari berbagai latar agama dan negara.***2***

Editor: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga