Jumat, 20 Oktober 2017

Ancaman Maut Di Gunungan "Emas Hitam"

id Batu Bara
Ancaman Maut Di Gunungan
Sekelompok perempuan menggunakan caping di kepala tampak berdiri di atas gunungan batu bara. (Foto Antarabengkulu.com/Helti)
Sekelompok perempuan menggunakan caping di kepala tampak berdiri di atas gunungan batu bara. Sesekali mereka mengambil sesuatu dari tumpukan "emas hitam" itu.

Panas terik matahari tak mereka hiraukan. Caping di kepala, muka dibungkus masker dan syal, para perempuan itu tengah bekerja memilah dan memisahkan batu dari tumpukan batu bara.

Pekerja menyebut aktivitas mereka dengan "parting", yakni membersihkan batu bara dari batu sungai. Tak hanya batu sungai, "kotoran" lain yang dipungut adalah bongkahan tanah dan jenis batu lapis.

"Semua pekerja sudah terlatih membedakan batu sungai, bongkahan tanah atau batu lapis," kata Miswati, seorang parting saat ditemui di area penumpukan batu bara (stockpile) Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, awal pekan ini.

Menurut Miswati, perbedaan mencolok antara batu bara dengan batu sungai adalah warna dan beratnya.

Batu bara terlihat hitam mengkilat, sedangkan batu sungai cenderung hitam legam karena terbungkus butiran halus batu bara. Bobot batu bara lebih ringan dibanding batu sungai.

Pembersihan batu sungai dari tumpukan batu bara dilakukan dengan cara menyerak batu bara di lapangan menggunakan ekskavator. Setelah batu diserak, pekerja akan menyisir dengan alat garpu taman di tangan untuk mencari dan memungut batu.

Pola tersebut terus berulang hingga membentuk gunungan batu bara setinggi delapan hingga 10 meter. Di bagian akhir, mereka juga harus mendaki gunungan batu bara tersebut untuk membersihkan batu sungai.

Pekerjaan itulah yang dilakukan Miswati bersama 70 orang perempuan lainnya di stockpile batu bara Pulau Baai, Kota Bengkulu.

Dengan upah Rp45 ribu per hari, mereka bekerja tak kenal lelah. Ketiadaan pilihan lapangan pekerjaan serta kondisi suami yang sakit-sakitan membuat Miswati bertahan menjadi parting.

"Masih ada tiga anak yang harus saya biayai sekolah, sedangkan Bapak sakit-sakitan sudah tujuh tahun ini," kata ibu enam anak itu.

Miswati sudah menekumi pekerjaan itu selama tujuh tahun. Hampir delapan jam per hari ia bekerja di bawah terik matahari di antara tumpukan batu bara.

Dengan masker rain yang jauh dari standar menutup hidung, ditambah syal atau serbet sebagai penutup muka, Miswati dan puluhan perempuan lainnya bekerja di bawah ancaman risiko kematian.



Risiko Kematian

Bagaimana risiko kematian mengintai Miswati? Pakar kesehatan telah lama mengidenfikasi penyakit Pneumoconiosis yaitu penyakit paru-paru yang disebabkan debu batu bara.

Dokter ahli paru-paru di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu, Mirna Sp.P mengatakan debu batu bara yang terhirup dan masuk ke paru-paru menjadi penyebab utama penyakit pneumoconiosis.

"Pekerja pertambangan, apalagi langsung bersentuhan dengan debu batu bara akan rawan sekali terkena pneumoconiosis," katanya.

Apalagi pekerja tidak dilengkapi alat pengamanan diri yang standar maka potensi menghirup debu akan semakin tinggi.

Sayangnya, kata dia, peralatan dan sumber daya manusia di RSUD M Yunus dan wilayah Bengkulu secara keseluruhan belum dapat mendeteksi penyakit ini.

"Biasanya kalau ada gejala itu saya rujuk ke rumah sakit di Jakarta, misalnya RS Persahabatan," kata Mirna.

Mirna mengatakan tidak ada angka pasti penderita pneumoconiosis di Provinsi Bengkulu, namun menurutnya, potensi warga terkena penyakit ini cukup tinggi sebab jumlah pekerja di sektor pertambangan di daerah itu cukup banyak.

Sementara berdasarkan data "International Labor Organization" (ILO) pada 2013, sebanyak 30 hingga 50 persen pekerja di negara berkembang menderita pneumoconiosis. Indonesia merupakan negara berkembang yang salah satu penopang ekonominya adalah sektor industri, yaitu industri pertambangan.

Istilah pneumoconiosis berasal dari bahasa Yunani yaitu pneumo yang berarti paru dan konos yang artinya debu. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-19 untuk menggambarkan penyakit paru yang berhubungan dengan debu mineral.

Berdasarkan berat penyakit pneumoconiosis penambang batu bara dibagi dua, yaitu simpleks dan kompleks. Pneumoconiosis simpleks biasanya tanpa gejala di mana pemeriksaan spirometri tidak menunjukkan kelainan fungsi paru yang berarti.

Tindakan pencegahan sangat diperlukan pada fase ini untuk mencegah progresivitas menjadi kompleks. Pneumoconiosis kompleks biasanya disertai gejala berupa batuk berdahak yang cenderung menetap.

Bahkan batuk dapat disertai dengan dahak berwarna kehitaman yang biasanya diakibatkan oleh komplikasi infeksi pada penderita.

Gejala pernafasan lainnya adalah sesak nafas, terutama saat melakukan aktivitas dan nyeri dada. Sedangkan gejala non-respirasi yang mungkin terjadi adalah bengkak di kaki dan tungkai yang merupakan komplikasi lanjutan dan pemeriksaan spirometri ditemukan penurunan nilai fungsi paru-paru yang berarti.

Timbulnya reaksi debu terhadap jaringan membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada beberapa penelitian didapatkan sekitar 15-20 tahun. Berdasarkan penyebabnya, pneumoconiosis dibagi menjadi tiga kelompok, yakni debu organik, anorganik (silika, asbes, dan timah) dan pekerjaan penambangan batu bara atau "coal worker`s pneumoconiosis" atau lebih dikenal dengan paru-paru hitam.

Miswati pun seolah memahami efek pekerjaan terhadap kesehatannya sehingga ia menyiapkan asupan segelas susu yang diminum setiap hari setelah bekerja.

Ia mengaku belum mengalami gejala-gejala gangguan pada paru-paru, namun setiap pulang kerja merasa sesak akibat udara yang dihirup terbatas selama bekerja di stockpile.

"Belum ada pilihan pekerjaan lain. Saya juga cemas dengan kesehatan di masa datang," katanya.***4***

Editor: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga