Senin, 25 September 2017

IPB temukan 49 individu Rafflesia patma Blume

id IPB, Rafflesia, Patma Blume
Bogor (Antara Bnegkulu) - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor menemukan 49 individu Rafflesia patma Blume di kawasan Cagar Alam Bojonglarang, Jayati, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

"Penemuan 49 individu Rafflesia patma Blume ini dari hasil Ekspedisi Rafflesia ke-7 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekosiwata (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan IPB," kata Ketua HIMAKOVA IPB Adlan Yusran melalui siaran persnya, Senin.

Adlan menjelaskan bahwa kegiatan ekspedisi Rafflesia dilaksanakan pada tanggal 23 Januari sampai dengan 1 Februari 2013, diikuti sekitar 100 orang mahasiswa HIMAKOVA Fakultas Kehutanan IPB.

Salah satu kelompok atau tim dari ekspedisi tersebut yakni Kelompok Pemerhati Flora "Rafflesia" menemukan spesies Rafflesia patma Blume di lokasi tersebut.

"Penemuan Rafflesia patma Blume pada ekspedisi ini pertama kali pada tanggal 28 januari 2013 di plot pengamatan sungai Cikawung oleh tim ekspedisi Kelompok Pemerhati Flora Rafflesia yang berada di camp lapangan," katanya.

Lebih lanjut Adlan menjelaskan jumlah individu Rafflesia Patma Blume yang ditemukan sebanyak tiga individu dalam kondisi membusuk.

Penemuan tersebut dilakukan secara tidak sengaja ketika tim ekspedisi melakukan analisis habitat untuk spesies Tetrastigma lanceolarium Planch di sekitar muara Sungai Cikawung.

"Lokasi penemuan di dekat muara Sungai Cikawung merupakan yang pertama kali dilakukan, karena dari penuturan polisi hutan setempat Rafflesia Patma Blume biasanya ditemukan di daerah lereng antara sungai Cikawung dan Cisela," katanya.

Penemuan selanjutnya di temukan oleh tim ekspedisi Kelompok Pemerhati Flora Rafflesia yang berada di camp pantai pada tanggal 29 januari 2013.

Penemuan Rafflesia patma Blume oleh tim ekspedisi kedua di plot pengamatan di antara daerah aliran sungai (DAS) Cikawung dan DAS sungai Cisela di dalam kawasan Cagar Alam Bojonglarang Jayanti.

"Dalam penemuan kedua, tim menemukan 11 individu Rafflesia patma Blume dengan kondisi membusuk dan kuncup atau dalam bentuk knot," ujarnya.

Di hari terakhir pengamatan 31 Januari 2013 kegiatan Ekspedisi Rafflesia ke-7 tim kelompok pemerhati Flora Rafflesia melakukan
pemetaan posisi lokasi plot penemuan Rafflesia patma Blume yang dilakukan oleh tim gabungan dari tim ekspedisi Kelompok Pemerhati Flora Rafflesia yang berada di camp pantai dan camp lapang.

Dari kegiatan pemetaan ini diperoleh total tujuh plot penemuan Rafflesia patma Blume pada 7 lokasi yang berbeda.  

Pada plot pertama di daerah muara Sungai Cikawung diperoleh tiga individu Rafflesia Patma Blume (dalam kondisi membusuk), pada plot kedua ditemukan lima individu dalam kondisi kuncup dan membusuk, pada plot ketiga diperoleh 11 individu dalam kondisi kuncup dengan ukuran knop yang sangat variatif mulai dari 10 cm sampai dengan 30 cm, pada plot pengamatan ke empat ditemukan 5 individu dalam kondisi membusuk, pada plot ke 5 ditemukan 19 individu dalam kondisi kuncup dengan ukuran knop mulai dari 3 cm sampai dengan 20 cm dan dalam kondisi membusuk, pada plot ke 6 hanya ditemukan satu individu dalam kondisi kuncup dengan ukuran knop 13 cm, dan pada plot terakhir ditemukan 5 individu dalm kondisi kuncup dengan ukuran knop mulai dari 5 cm sampai dengan 15 cm.

Adlan menyebutkan kondisi vegetasi tempat penemuan Rafflesia patma Blume berbeda-beda untuk setiap plot penemuan. Pada plot pertama vegetasi yang mendominasi kawasan adalah jenis pohon Kopo (Syzygium cymosum (Lam.) DC atau Eugenia cymosa (Lam).

Pada plot pengamatan kedua vegetasi yang mendominasi adalah kepuh (Sterculia foetida L.), dan pada plot pengamatan kelima vegetasi yang mendominasi adalah beringin (Ficus benjamina L.) dan pada plot yang lain kondisi vegetasi yang mendominasi adalah bambu duri (Bambusa bambos (L) Voss).

Sementara itu Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Prof Bambang Hero, mengatakan, Ekspedisi Raflesia betujuan untuk menghasilkan data dan informasi terbaru mengenai keragaman, penyebaran, dan kelimpahan, jenis flora dan fauna serta peran kawasan ekosistem cagar alam di sebuah daerah yang belum dilakukan penelitian.

"Ekspedisi Rafflesia ini merupakan kegiatan ekspedisi tahunan yang rutin diadakan sejak 2007 oleh HIMAKOVA IPB," katanya.

Menurut Bambang, Ekspedisi Raflesia tersebut menjadi point penting karena  untuk mengumpulkan data keragaman hayati di suatu wilayah yang masih minim datanya.

Data yang dikumpulkan meliputi eksplorasi flora dan fauna serta ekowisata yang diharapkan, hasil ekspedisi tersebut tidak hanya dikembangkan dalam bentuk pamflet dan tulisan saja tapi menjadi realitas yang bisa diwujudkan.

"Mahasiswa sebagai agen pembaharuan diharapkan dengan mengirimkan mereka ke lapangan, sehingga mengetahui kondisi nyata kawasan tersebut. Mereka dapat berani menghadapi dunia luar, memotret keadaannya, mengetahui permasalahannya dan mencari solusinya," katanya. (Antara)

Editor: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2013

Baca Juga